Jumat, 12 Juli 2013

SASTRA ARAB DARI KLASIK HINGGA MODERN

SASTRA ARAB DARI KLASIK HINGGA MODERN

ABSTRAKSI
Tulisan ini merupakan satu kajian bahasa sastra arab mengenai sejarah bahasa dan sastra arab dari klasik hingga modern. Kajian ini menjadi mnarik, karena sastra arab menjadi salah satu bidang keilmuan yang dipelajari oleh berbagai mahasiswa di penjuru dunia termasuk Indonesia. Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan mengenai asal-usul bahasa arab yang merupakan rumpun bahasa semit yang digunakan oleh orang-orang samiyyah dan bagaimana relevansinya terhadap sastra arab. Disamping itu, tulisan ini juga akan menyuguhkan tentang pengertian sastra arab, perbedaan lahjah-lahjah arab serta tujuan bahasa arab yang muncul pada saat itu.
Pada akhinya, penulis berharap tulisan semga bermanfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi sekalian pembaca, dan semoga dengan tulisan ini bisa menjaga keberlangsungan terhadap studi sastra arab di Indonesia.
Adi Matla’ul Hadi
Yogyakarta, 1 juni 2010
KATA PENGANTAR
Sastra arab adalah hasil kebudayaan bangsa asia barat yang telah berumur ribuan tahun,  dari dulu hingga sekarang bahasa arab terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan bahkan keberadaannya sekarang bisa menyaingi sastra-sastra yang ada didunia. Kenyataan itu dibuktikan dengan penerimaan penghargaan nobel yang diterima oleh Najib Mahfiud pada tahun 1988. Sastra arab mempunyai peranan penting dalam perkenbangan kebudayaan khususnya di kawasan timur tengah (asia barat). Pada zaman arab klasik, sastra merupakan alat kebanggaan bagi setiap warga arab, orang merasa bangga ketika bisa menghasilkan sebuah karya sastra yang nantinya diikutlombakan dikota-kota, dan barang siapa yang karyanya bagus nantinya akan di pajang di dinding ka’bah dengan tinta emas dan itu menjadi suatu kebangga bagi setiap orang yang menerimanya sehingga orang akan berlomba-lomba untuk mmbuat karya sastra, bahkan sudah menjadi kebiasaan orang datang kepasar-pasar itu hanya untuk mendengarkan dongeng-dongeng ataupun syair-syair dari para sastra yang mereka bacakan dipasar-pasar. Pada abad ke enam masehi datanglah islam yang dimotori oleh nabi Muhammad SAW dengan membawa kitab suci Al-Qur’an yang merupakan kitab yang memiliki nilai sastra yang sangat tinggi. Kedatangan nabi ini membawa perubahan yang sangat besar terhadap kebudayaan arab tidak terkecuali sastra yang menjadi hobi bagi masyarakat arab.
Keberlangsungan sastra terus berkembang ketika memasuki zaman sahabat-sahabat nabi,  bahkan ketika itu muncul berbagai ilmu-ilmu pengetahuan yang menjadi penunjang untuk mengupas kedalaman sastra yang terkandung didalam al-Quran, seperti ilmu Balaghah, Mantiq, asbab an-Nuzul dan sebagainya. Hingga kini keberadaan sastra dapat kita rasakan, bahkan bentuknya dapat kita nikmati dengan berbagai varian, mulai dari yang berbentuk tulisan, gambar, hingga gambar visual seperti film.






PEMBAHASAN
  1. 1.      SASTRA
Manusia sejak lahir dititipi tuhan dengan naluri keindahan dalam dirinya, sehingga kalau disuruh untuk memilih sesuatu maka dia pasti akan memilih yang terbaik dan terindah. Pilihan ini jatuh karena manusia memiliki naluri terhadap keindahan. Dunia sastra sangat identik dengan keindahan, karena sastra merupakan ungkapan jiwa seseorang yang diapresiasikan dalam berbagai bentuk dan memiliki nilai yang tinggi. Secara etimolgy sastra dapat diartikan dengan : Menurut Pradopo (1994 : 32) mengutip defenisi Gazali,B.A yang mengatakan bahwa : Sastra (castra) dari bahasa Sanskerta yang artinya tulisan atau bahasa yang indah.[1] Adapun secara terminology, ada beberapa pendapat yang mengemukakannya, salah satu diantaranya adalah Menurut Zainuddin (1992 :99) : “Sastra ialah  karya seni  yang dikarang  menurut standar bahasa kesusastraan, maksudnya adalah penggunaan kata-kata yang indah dan gaya bahasa  serta  gaya cerita yang menarik.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sastra adalah semua aspek khidupan yang dihasilkan oleh manusia yang muncul dari gejlak atau pengalaman jiwa yang memiliki nilai keindahan, atau juga bisa didefinisan dengan segala ekspresi manusia yang dicurahkan dalam bentuk tulisan yang indah. Unut mengetahui sebuah karya bernilai sastra atau tidak, kita tidak bisa memberikan suatu batasan yang pasti, karena sastra bersifat intuisi sehingga bernilai atau tidanya sebuah karya tergantung orang yang memandangnya karna perasaan  seseorang dalam menilai sesuatu tidak sama, sehinga dalam dunia sastra tidak ada istilah karya yang baik dan yang buruk karena hal itu tergantung orang yang menilainya. Hal itu dapat dibuktikan dengan sebuah pengalaman penulis ketika berkunjung bersama rombongan kelompk belajar Qawaid imlak pada tanggal 9 mei 2010 kepada seorang kaligrafer Bapak Saifullah yang berada di daerah Gendeng. Ketika kami menilai, beragam penilaian pun muncul terhadap salah satu karya sehinga kami saling berdebat kecil-kecilan mengenai nilai dari karya tersebut, artinya bahwa sebuah karya seni tergantung siapa yang menilainya. Hanya sasja sebuah karya sastra bisa bernilai tinggi ketika karya tersebut memiliki daya angan dan khayalan yang memikat sehingga mampu menggugah emosi dan perasaan pembaca.
  1. 2.      Sejarah sastra arab
Sastra arab identik dengan bahasa arab, karena bahasa arab adalah sebagai jalan satu-satunya untuk memahami sastra Arab tersebut. Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun besar bahasa Semit. Yang pertama memberi nama ini adalah seorang orientalis bernama Schlozer yang mengambil dari tabel pembagian bangsa-bangsa di dunia yang terdapat di dalam Perjanjian Lama. Tabel ini menggambarkan bahwa setelah terjadinya banjir nabi Nuh semua bangsa di dunia berasal dari tiga orang putera nabi Nuh yaitu Syam, Ham, dan Yafis.
Nama ini singkat dan cocok untuk sebuah istilah, akan tetapi ilmu pengetahuan modern memahami secara berbeda dengan apa yang difahami oleh tabel pembagian bangsa dalam Perjanjian Lama karena Perjanian Lama mendasarkan pembagian bangsa-bangsa itu pada pertimbangan politik dan batas geografis semata. Oleh karena itu, Perjanjian Lama menganggap bangsa Ilami dan Ludi termasuk keturunan Sam karena mereka berada di bawah kekuasaan negara Asyuria. Meskipun di antara kedua bangsa ini sama sekali tidak ada hubungan keluarga. Begitu juga diantara kedua bangsa tersebut dengan bangsa Asyuria tidak terdapat hubungan kekerabatan sama sekali. Tabel Perjanjian lama juga menganggap bangsa Finisia sebagai keturunan Ham karena adanya hubungan politik dengan bangsa Mesir meskipun mereka lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan bangsa Ibrani.
Menurut ahli bahasa, bersatunya bahasa arab adalah merupakan hasil percampuran bahasa penduduk-penduduk yang mendiami semenanjung jazirah arab. Tidak diketahui secara pasti kapan bahasa tersebut berbentuk seperti bentuk sekarang ini dan juga tidak diketahui sebab-sebab yang membawa percampuran bahasa dari penduduk tersebut. Sejauh apa yang dapat dimengerti dari peninggalan zaman batu serta berbagai riwayat bahwa di selatan dan utara semenanjung arab mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa arab yang sampai kepada kita. Perbedaan bahasa tersebut kalau dipelajari dapat kita lihat dari lahjah-lahjah (dialek-dialek) dan segi I’rab dan isytiqaqnya serta persamaan kata-katanya.
Menurut para ahli, bahasa arab adalah bahasa yang terdekat keasliannya dengan bahasa semit, karena bahasa arab sejak lama tidak dipakai dan tidak dikuasai oleh bangsa lain. Bahasa arab juga merupakan bahasa yang paling kaya dengan pembendaharaan kalamnya, termasuk paling kuno, dan enak diucakan. Al-Qur’an dan Hadist Nabi sebagai sumber dari agama Islam dan peradaban Islam adalah seratus persen bernilai sastra yang tidak dapat diresapi kandungan maksudnya sedalam-dalamnya kecuali dengan pengetahuan yang cukup tentang  sastra Arab.[2] Sebab itu sastra Arab harus dipelajari oleh kaum muslimin lebih-lebih para pelajar dan mahasiswa Islam, para guru, mubaligh, serta para ulama dan cendekiawan muslim.
Sejarah sastra arab merupakan suatu aspek yang cukup penting dalam mengungkap bagaimana perjalanan sastra arab dari zaman kuno hingga sekarang. Sastra arab dalam sejarahnya memiliki perjalanan yang panjang, untuk memudahkan kita dalam mengetahuinya, maka sejarah sastra arab dibagi dalam enam periodisasi :
2.1. Periode Jahiliyah
Periode  ini  merupakan  periode  pembentukan  dasar-dasar  bahasa Arab. Pada periode ini  ada kegiatan-kegiatan  yang dapat membantu  perkembangan  bahasa Arab, yakni kegiatatn di suq (pasar) Ukaz, Zu al-Majaz, dan Majannah yang merupakan festival dan lomba bahasa Arab antara suku Quraisy dan suku-suku lain yang datang ke Mekkah untuk berbagai keperluan, yang dapat  membentuk  suatu kesusastraan yang baku. Sebagaimana diungkapkan diatas, bahasa arab yang kita kenal sekarang ini adalah merupakan bahasa hasil dari campuran bahasa arab yang berbeda-beda. Tidak bisa diketahui secara pasti kapan bahasa arab tersebut bercampur dan bagaimana awal percampuran itu terjadi serta apa saja faktor-faktor yang menyebabkan percampuran bahasa arab tersebut. Namun menurut sebagian pendapat, ada yang mengungkapkan sebab-sebab percampuran bahasa arab sebagai berikut :
Adapun sebab-sebab percampuran bahasa adalah:
  1. Hijrahnya bani Khathan ke semenanjung arab, percampuran mereka dengan arab Baidah di Yaman yang kemudian terpencar ke seluruh penjuru jazirah akibat pecahnya bendungan ma’rib.
  2. Hijrahnya Isma’il ke jazirah arab dan percampuran keturunannya dengan Qahthan dengan adanya perkawinan, bertetangga, penggembalaan, peperangan dan perdagangan. Tempat yang paling terkenal dalam percampran bahasa arab adalah haji.
Pasar yang paling penting adalah pasar Ukaz yang mereka dirikan pada awal dzul qa’dah. Pasar tersebut mulai dibangun pada 15 tahun setelah tahun gajah (tahun kelahiran nabi Muahammad), masa ini berlangsung sampai sesudah datangnya islam walaupun keadaannya tidak seperti semula yakni sampai tahun 129 H. pada waktu itu berkumpulah para bangsawan arab untuk berdagang, menebus tawanan, menyelesaikan persengketaan, atau untuk berbangga-bangga dalam bidang sya’ir, keturunan, kefasihan bahasa, kecantikan, keberanian dan sebagainya. Diantara penyair yang terkenal adalah yang bernama Nabighat Ad-Dibyani, dalam bidang pidato adalah Qus Innu Sa’adah Al-Iyyadi. Kebanyakan para penyair menyebutkan dalam syairnya tentang pasar Ukaz. Khusus untuk orang Quraisy, berkumpulnya orang-orang arab diwaktu haji dan di pasar-pasar ini mempunyai peranan yang besar dalam pendidikan dan pertumbuhan bahasa mereka.
2.1.1Perbedaan Lahjah Arab
Bangsa arab pada akhirnya terdiri dari dua golongan besar yaitu Qahtani atau Yamani dan Adnani atau Nizzari. Dari kedua golongan ini terpencar menjadi qabilah-qabilah yang masing-masing mempunyai lahjah yang berbeda antara satu dengan yang lainya, tetapi dari satu asal kecuali bahasa Himyar dari Qahtan dapat mengalahkan saudaranya yang kemudian kemasukan beberaa lafadz dan susunan kata-katanya dari golongan Adnan yang sedikit mempunyai perbedaan lahjah. Walaupun bahasa Adnan dapat menguasai bahasa qabilah lain, masih juga terdapat lahjah –lahjah yang berbeda-beda pada penduduk terutama penduduk Himyar. Kita tidak melupakan adanya pengaruh lingkungan, jauhnya satu tempat dengan yang lainnya, sarana kehidupan yang berbeda-beda, dan sebagainya. Semuanya ini melekat menjadi cirri-ciri tertentu bahasa setiap qabilah. Inilah secara keseluruhannya dikatakan dengan lahjah qabilah atau bahasa qabilah.
2.1.2 Kalam Arab
Tujuan kalam arab sebagaimana kalam-kalam yang lainnya, ialah untuk mengungkapkan fikiran-fikiran yang tersimpan didalam jiwa seseorang, untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara untuk mempermudah pekerjaan dalam kehidupan, dimana fikiran selalu mengadakan pembaharuan yang tiada henti-hentinya, maka gambaran bentuk yang menyatakan fikiran inipun selalu mendapat pembaharuan menurut kemampuan daya cipta yang sesuai dengan keadaan.
Kadang-kadang kalam tersebut sampai kepuncak balaghahnya karena ringkasnya kata-kata, artinya yang tepat, penyampaianya yang baik serta halusnya isyarat, sehingga enak didengar, mudah dihafal dan mudah dimengerti, inilah yang disebut dengan mutsul atau hikmah. Adapun secara pengertian, hikmah adalah perkataan yang indah yang mengandung hukum yang betul dan dapat diterima, sedangkan mutsul adalah perumpamaan atau kata-kata tiruan yang bertujuan menyerupakan keadaan yang ditiru dengan keadaan lain yang menimbulkan diucapkannya peniruan tersebut. Kadang bentuk katanya menurun sampai ketingkat yang paling rendah dalam pengertiannya, dimana kalau sampai ke posisi ini menjadi asing bagi para ahli sastra.  Adapun bahasa mutsul itu terbagi atas dua bagian, yaitu:
  1. Mutsul hakiki, ialah mutsul yang mempunyai sumber yang nyata dan jelas dipergunakannya dan disesuaikan dengan sumber tersebut.
  2. Mutsul fardliyah, ialah mutsul yang diambil dari kata-kata binatang atau tumbuh-tumbuhan atau benda-benda padat.
Mutsul fardlyah ini banyak terdapat pada waktu merajalelanya kedzaliman dan kediktatoran, dimana orang yang memberi peringatan dan petunjuk sering mendapat hukuman. Disini secara terpaksa mereka menggunkan mutsul fardliyah dalam menyampaikan pesan untuk keselamatan hidupnya. Karena dengan cara yang halus seperti dengan lelucon yang mengandung nasihat bisa memberikan peringatan kepada pemimpin-pemimpin yang dzalim dan diktator. Mutsul merupakan cermin yang menggambarkan gambaran-gambaran bangsa telah lalu dan ia merupaan timbangan yang mengukur pasang surutnya bangsa, sastra dan bahasanya. Orang arab sangat banyak menggunakan mutsul sehingga pada setiap kesempatan mereka selalu menggunakannya. Sampai ada pujangga yang sengaja menyusun mutsul-mutsul ini dan diantara mutsul yang terkenal yaitu mutsul luqmanul hakim.
Adapun tujuan bahasa arab pada masa jahiliyah adalah:
  1. Bahasa digunakan untuk kehidupan baduwi, dan sifat kemanfaatannya adalah :  separti menetap dan perginya kesuatu daerah, hasil yang diperoleh dari binatang dan gembalanya, mempengaruhi segala sesuatu, mengalirkan air  hujan.
  2. Sebagai pemanasan dalam persengketaan dan permusuhan serta apa-apa yang ditimbulkan dari kedua hal tersebut. seperti dorongan untuk balas dendam, pesta dalam kemenangan, dan berbangga-bangga dari keturunan.[3]
Adapun makna bahasa pada zaman jahiliyah adalah sebagai berikut: arti mufradatnya sederhana sesuai dengan kebaduian dan fitrah (naluri) mereka yang sederhana tidak tercampur dengan kemajuan zaman dan keindahan. Cara berfikirnya dihasilkan dari hal-hal yang dapat diraba, dilihat, atau watak, perasaan atau percbaan dengan cara yang tidak berlebih-lebihan dan tidak mendalam. Daya khayal mereka dihasilkan dari gambaran-gambaran yang nyata atas dasar hal-hal yang jarang keluar dari kemampuan akal dan kebiasaan.
2.1.3Pembagian Kalam Arab
Kalam arab terbagi menjadi dua bagian, yaitu natsar dan nadzam.[4] Nadzam adalah kalam yang berwazan dan bersajak, sedangkan natsar adalah kalam yang tidak tergantung pada wazan dan sajak.
  1. 1.      Natsar
Terdiri dari percakapan pidato dan tulisan, kalam itu pada dasarnya adalah berbentuk natsar karena untuk menjelaskan maksud dan tujuan lebih mudah dan jelas. Kalam bisa merupakan percakapan yang terjadi antara satu orang dengan  yang lain untuk memperbaiki bentuk-bentuk kehidupan yang disebut muhadatsah. Ada yang merupaan perkataan yang fasih yang mempunyai kepentingan yang disampaikan kepada sekelompok manusia. Ini yang dinamakan Al-Khitabah. Dan ada pula kalam yang dilukiskan dengan huruf atau lukisan-lukisan yang lain untu kepentingan yang tidak disebutkan, atau untuk disimpan untuk orang-orang yang datang kemudian karena jauhnya jarak antara keduanya yang sedang bercakap, inilah yang disebut kitabah. Adapaun cirri-ciri dari natsar jahiliyah adalah :
  1. Sedikit ketelitian mereka dalam memilih kata-kata yang sesuai dengan wazan yang sama iramanya. Mereka menggunakan kata-kata yang sesuai dengan arti dan menurut apa adanya.
  2. Jarang mengunkan kalimat-kalimat dan ungkaan-ungkapan yang mempunyai arti-arti sebagaimana yang sering digunakan oleh jahidh dan kawan-kawannya.
  3. Sedikit kecendrungan mereka berlebih-lebihan dalam membentuk ungkapan-ungkapan dan uslub-uslub serta sajak-sajak mereka kecuali sajak para dukun atau peramal.
  4. Kalimatnya pendek-pendek dan sering menggunakan hikam mutsul dan wasiyat.
  5. Memiliki kecenderungan dalam menggunakan kata-kata yang singkat tanpa meninggalkan arti.
  6. Sering menggunakan kinayah yang mendekati kenyataan, terus terang pada hal-hal yang mereka anggap jelek atau menggerakan jiwa dalam mendatangkan gambaran sindiran dengan menggunakan sifat yang khas.
  7. Tidak begitu memperdalam arti kata-kata yang jauh dan memperdalam pemikiran yang sukar difahami sehingga membutuhkan pemikiran dan penelitian ilmiah.
1.1.Muhadatsah atau Lughatut Takhathub
Bahasa muhadatsah orang jahiliyah setelah mereka menjadi satu adalah bahasa al-mu’arabah. Yang mereka gunakan dalam sya’ir, pidato dan tulisan. Penggunaan untuk ketiga keperluan ini tidak ada perbedaan dari segi balaghah kecuali hal-hal yang mengharuskan adanya pada khitabah, sya’ir dan tulisan seperti dalam kegunaan persoalan dan ketelitian dalam ibarat harus selalu disebutkan. Kebanyakan yang sampai kepada kita mempunyai arti yang mulia dan kata-katanya fasih.
1.2.Khitabah
Kitabah adalah sejenis perkataan dan merupakan cara untuk memuaskan sesuatu dalam mempengaruhi seserang ataupun kelompk, hadirnya khitabah adalah untuk mempertahankan pendapatnya sendiri dan merupakan reaksi terhadap hal-hal yang menyangkut pendapat tersebut.
Faktor alami yang mendorong adanya kitabah pada masa jahiliyah adalah:
  1. Sebagian besar umat arab buta huruf yang mengakibatkan mereka harus menggunakan lisan lebih banyak.
  2. Mereka menguasai fasehah dan tunduk pada kaedah-kaedah balaghah.
  3. Terpecahnya mereka dalam beberapa kabilah yang berdiri sendiri dan kelompok-kelompok kecil.
  4. Komunikasi yang teratur diantara mereka masih belum ada seperti adanya pos yang membawa surat-surat atau telegram yang menyampaikan berita penting atau surat-surat kabar yang menyiarkan peristiwa-peristiwa umum.
  5. Timbulnya pernyataan karena hal-hal yang remeh yang membawa kedalaman mempertahankan diri sendiri, harga diri dan harta kemudian timbulnya pembalasan.
1.3.Kitabah
Yang dimaksud dalam kitabah disini adalah adanya pahatan-pahatan, lukisan yang disebut khat, makanya perlu menerangkan timbulnya khat arab, yaitu : fase pertama dari silsilah khat arab ialah khat misyri al-qadim, darinya munculah khat finiqi kemudian khat aroma. Dari semua khat itu munculah khat ats-tsamudi al-lihyani di utara jazirah arab dan al-himyari di selatan jazirah arab. Dari sini para rawi arab dan peneliti dari bangsa mesir berselisih pendapat.
  1. 2.      Nadzam
Nadzam adalah bagian kedua dari bagian kalam, menurut ahli ‘arud, nadzam adalah kalam yang berwazan dan berakhiran sama secara disengaja. Dan menurut mereka definisi ini sama dengan syi’ir.
Secara etimologi syi’ir berasal dari kata  شعَر أو شعُر yang berarti mengetahui dan merasakannya. Sedangkan menurut terminologi, ada beberapa pendapat yang mengutarakannya, diantaranya menurut Dr. Ali Badri :
الشّعر هو كلام موزون قصدا بوزن عربيّ
Artinya syi’ir adalah suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama atau wazan arab.[5]
Perlu diketahui, bahwa syi’ir arab kalau ditinjau dari segi bentuknya, terbagi menjadi tiga macam: pertama syi’ir multazim/tradisional yakni syi’ir yang terikat dengan aturan wazan dan qafiyah. Kedua syi’ir mursal/mutlak yakni syi’ir yang hanya terikat dengan satuan irama atau taf’ilah, tetapi tidak terikat oleh aturan wazan dan qafiyah. Ketiga adalah syi’ir mantsur / syi’ir bebas yakni syi’ir yang sama sekali tidak terikat oleh aturan wazan dan qafiyah.
2.2. Periode Permulaan Islam
Sejak datangnya Islam  sampai berdirinya  Bani Umayyah. Setelah Islam Berkembang luas, terjadilah perpindahan orang-orang Arab ke daerah-daerah baru. Mereka  tinggal dan menetap di tengah-tengah penduduk asli,  sehingga mulailah terjadi assimilasi dan pembauran yang memperkuat kedudukan bahasa Arab. Sastra pada periode permulaan islam ditandai dengan turunnya al-Quran al-Karim melalui pelantara nabi Muhammad SAW, al-Quran menjadi landasan utama bagi umat islam dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Dengan landasan tersebut umat islam termotivasi untuk memajukan peradaban dan menebar benih-benih kebaikan, sehingga mendorong untuk lebih mendalami  ilmu pengetahuan dari berbagai cabang disiplin ilmu, termasuk di dalamnya ilmu bahasa yang mempelajari kesusastraan.
Kedatangan islam ditanah arab membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan arab sebelumnya, sebelum kedatangan islam bangsa arab adalah bangsa yang sangat terpuruk dalam berbagai bidang. Kebudayaan arab saat itu sangat tertinggal sekali, ini bisa dilihat dari kebiasaan orang arab sebelum kedatangan islam. Saat itu perang saudara menjadi hal yang biasa, bahkan membunuh anak perempuan karena malu dan takut miskin seolah menjadi tradisi. Namun setelah kedatangan islam, semua itu sedikit demi sedikit berkurang berkat didikan nabi Muhammad terhadap bangsa arab. Karena kesuksesannya itu, sampai-sampai nabi Muhammad ditempatkan di posisi pertama sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia oleh seorang orientalis Michael H. Hart.[6]
Ada satu hal yang unik dalam sejarah bangsa arab, walau pun bangsa arab peradabannya tertinggal akan tetapi kesusastraannya sama sekali tidak terengaruhi karena sebelum datangan islam sastra di tanah arab sudah dikenl bahkan sampai berkembang. Ketika islam masuk, kesusastraan arab tidak berubah hanya saja isi dan semangat yang dkandung dalam sastra tersebut yang mengalami perubahannya. Hal ini diakibatkan karena banyak sastrawan saat itu yang, masuk islam sehinga mempengaruhi terhadap sastra itu sendri. Diantara sastrawan jahiliyah yang masuk islam adalah : Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah. Selain Al-Quran, juga ada hadis nabi yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan sastra arab. Oleh karena itu umat islam sangat menjaga keaslian terhadap hadis tersebut, karena hadis tidak akan ditemukan pada umat-umat lain dan tidak akan ada lagi hadis setelah wafatnya nabi.
2.3. Periode Bani Umayyah
Periode  yang  ditandai  dengan  intensifikasi   pencampuran    orang-orang Arab Islam dengan penduduk asli Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, orang Arab merupakan kelompok Aristokrat yang mempunyai ambisis besar untuk mengembangkan kebudayaan mereka  dengan cara menjadikan bahasa  Arab sebagai bahasa negara. Mereka melakukan التعريب )Arabisasi( dalam berbagai bidang kehidupan. Karena itu, penduduk asli mencoba mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa pergaulan dan bahasa agama. Dengan jalan lain, sejak sepertiga akhir abad pertama Hijriah bahasa Arab telah mencapai posisi yang tinggi, terhormat dan kuat dalam wilayah Islam.
Periode umayah adalah periode yang paling gencar dengan sastra sya’irnya, Pada masa bani Umayah terdapat banyak golongan-golongan muncul dalam islam diantaranya adalah Syi’ah dan Khowarij dan pengikut Abdullah bin Zubair dan lain-lain. Keadaan sedemikian itu menyebabkan posisi sya’ir justru menjadi penyambung lidah sesuai dengan tujuan dari tiap-tiap golongan islam tersebut.[7] Apalagi pada zaman bani Umayah khalifah memberikan kebebasan kepada para penyair untuk mengexpresikan bentuk sya’irnya masing-masing. Para khalifah bani Umayah sangat memberikan perhatian kepada para penyair sehingga banyak memberikan fasilitas yang cukup memadai demi untuk memperkuat politik mereka. Dalam memegang pemerintahan pada masa itu, para khalifah sengaja memecah belah antara penyair dengan jalan memberikan fasilitas yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya bagi mereka yang pro dan kontra dengan pemerintahan.
Jenis sya’ir pada masa bani umayah :
  1. Puisi Politik (Syiir al-Siyasi)
Seiring dengan munculnya golongan atau partai politik, maka munculah para penyair yang mendukung golongan atau partai politik tersebut, sehingga melahirkan puisi yang bernuansa politik seperti: Kasidah al-Kumait yang mendukung ahlu bait, Al-Qithry ibn Al-Fajaah pendukung Khawarij, dan Al-Akhthal pendukung bani umayah.
  1. Puisi Polemik (Syiir al-Naqoid)
Puisi Al-Naqoid yaitu jenis puisi yang menggabungkan antara kebanggaan (fakhr), pujian(madh), dan satire (haja’).
  1. Puisi cinta (Syiir al-Ghazal)
puisi jenis ini berkembang menjadi seni bebas/independent yang mengkhususkan pada kasidah-kasidah.
Tujuan sya’ir pada masa bany umayah
  1. Al-Hija’ (celaan atau ejekan)
Sesuai namanya sya’ir hija’ adalah sya’ir yang bertujuan untuk mencela penya’ir lainnya, sehingga pada saat itu sering terjadi perang sya’ir antara satu penya’ir dngan penya’ir yang lainnya. Salah satu contoh dibawah ini adalah sya’ir hija’ yang dilontarkan oleh al-Farazdaq kepada Jarir[8] :
ولو ترمى بلؤم بنى كليب
لدنّس لؤمهم وضح النهار
ليطلب حاجة إلا بحار
نجوم الليل وما وضحت لسار
 ولو يرمى بلؤمهم نهار
 وما يغو عزيز بنى كليب
Walaupun gemintang malam dilempar dengan kehinaan bani kulaib, tidaklah bintang itu menjadi gelap sementara kehinaan mereka tetap berlalu. Walaupun siang dilempar dengan kehinaan mereka, siang tetaplah terang sedang kehinaan mereka semakin terjadi. Dan tidaklah ketua bani Kulaib bepergian kecuali untuk meminta kebutuhannya pada tetangga.(Al-Iskandary, 174).[9]
  1. Al-Madah (pujian)
Para penyair arab dimasa bani Umayyah sering menggunakan sya’ir Al-Madah sebagai alat untuk mendapatkan uang dari penguasa, sehingga memuji penguasa menjadi sebuah pekerjaan bagi seorang penya’ir. Akan tetapi tidak semua penya’ir memuji tujuannya hanya untuk  mendapatkan uang akan tetapi ada juga yang hanya sebatas membanggakan kelompoknya. Berikut adalah contoh sya’ir madah :
لله دار عصابة نادمتهم
يمشون فيالحلل المضاف سجها
يوما بجلق فى الزمان الأوّل
مشى الجمال إلى الجمال البزل
Allah adalah rumah setiap golongan yang menemani mereka Selama satu hari di dzillaq (tempat dekat damaskus) pada permulaan zaman. Mereka berjalan-jalan disela-sela kebingungan yang memintal seperti unta yang memasuki umur unta bujjal (unta umur delapan tahun yang menginjak umur Sembilan/ unta dewasa)
  1. Al-Fakhru (membangga-banggakan)
Dalam sya’ir fakhru, penya’ir arab sering membangga-banggakan dirinya atau kelompoknya  lewat sya’ir-sya’irnya. Adapun yang mereka banggakan adalah seperti bangga dengan kekayaan, kedudukan dan istri yang cantik.
لنا حاضر فعم، وباد كأنّه
لنا الجننات الغرّ يلمعن بالضحى
شماريع رضوى عزّة وتكرّما
وأسيافنا يقطر من نجدة دمأ
Kita adalah orang yang ada di fa’mun (puncak), dengan menikung bagai batang yang dijalari keagungan dan kemulyaan. Kita adalah pembela kebenaran tyang bersinar terang di waktu dluha (pagi menjelang siang). Dan pedang-pedang kita siap mengucurkan darah
2.4. Periode Abbasiyah
Selama periode ini perkembangan bahasa dan sastra Arab tetap mendapat perhatian. Lapangan kehidupan di masa pemerintahan Abbasiah, lebih makmur dan maju, ilmu pengetahuan Islam  banyak digali di zaman ini. Maka kerajaan Bani Abbasiah besar sekali jasanya  untuk kemajuan  peradaban dunia Islam. Berkat kemajuan yang diperoleh tersebut, rakyatnya dapat bergembira dengan  hasil cocok tanam mereka dan kemegahan kota Baghdad sebagai ibu kota kerajaannya. Sampai saat ini terkenal sebagai  salah satu tempat kejayaan kebudayaan Islam. Ibu kota kerajaan itu menjadi tempat tujuan penyair. Para penyair tersebut saling berlomba untuk mendapatkan  kesenangan dari raja dengan jalan menjadi dan mengagungkannya. Kebolehan seperti itu akan mendapat  pujian  pula dari rakyat.
Pada masa abasiyah, masyarakat kota arab sudah berasimilasi dengan rang-orang awam dan berbaur dengan cara bekerja di lapangan seperti perindustrian, pertanian, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang beraneka ragam. Disamping itu masyarakat arab sudah bercampur dengan orang-rang asing yang masuk ke wilayah arab bahkan berbesan dan bertetangga, mereka benar-benar berkecimpung dalam peradaban dan kemodernan. Sebagian besar penduduk arab menekuni bidang bahasa, adat istiadat, cara berfikir, sehingga hal ini berpengaruh kuat dalam bidang bahasa baik puisi maupun prosa. Maka pada masa ini munculah istilah arabisasi, menggali hukum syari’at dari kitab suci al-Quran dan menyusun ilmu bahasa arab untuk menjamin keutuhan bahasa arab khususnya al-Quran. Adapun tujuan-tujuan penggalian bahasa pada masa Abbasiyah adalah sebagai berikut :
  1. Penyusunan ilmu-ilmu syari’at yang belum pernah ditulis pada masa sebelumnya. Penyusunan ilmu tersebut mencakup tentang penyusunan ilmu Fikih, Aqidah, Balaghah, Ushul Fiqh dan Nahwu dan Sorof.
  2. Penerjemahan buku-buku bahasa asing kedalam bahasa arab, khususnya ilmu-ilmu yang lahir dari bangsa yunani kuno. Ilmu seperti ini dapat kita jumpai dalam ilmu mantik (logika) seperti yang penah dilakuan oleh Imam Abdul Rahman al-Ahdlori.[10]
  3. Penggarapan sektor industry sebagai buah dari kemajuan peradaban dalam bidang sains dan teknologi yang dicapai pada masa Abbasiyah.
  4. Mulai menjamurnya kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, dan pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan.
2.5. Periode Abad Pertengahan
Kehancuran kota Baghdad, menyebabkan   hancurnya pusat ilmu pengetahuan umat Isalam. Penyerbuan tentara Mongolia ke Baghdad yang dipimin oleh Hulagu Khan menyebabkan banyaknya  para ilmuan islam meningal dunia dan sebagian penyair ada yang lari ke Syam dan Kairo, maka pada akhirnya kedua kota ini  menjadi pusat Islam dan bahasa Arab. Perkembangan  syair di masa ini sangat lemah. Kegairahan penyair untuk mencipta jauh berkurang dari masa sebelumnya . Bait-bait syair pada masa itu  hanya ditujukan untuk mendekatkan diri pada khaliq dan bahkan sampai ada yang menjadian al-Quran hanya sebagai obat dan jimat, sehingga makna yang terkandung dalam al-Quran menjadi tabu dan tidak berkembang.
2.6. Periode zaman Modern
Pada akhir abad XVIII ketika bangsa Arab di bawah pemerintahan Daulat Usmaniyah  keadaannya sangat lemah. Bangsa Eropa setelah melihat keadaan ini, kembali mengulangi ekspansinya ke Timur Tengah. Mereka datang  tidak dengan kekerasan tetapi kedatangan ini  dengan dalih  untuk menyebarkan  ilmu pengetahuan dan  memperluas roda perdagangan. Pemerintahan berikutnya yang jatuh kepada Muhammad Ali (yang semula diangkat oleh Sultan Usmani menjadi Gubernur Mesir) berusaha untuk  menerima kebudayaan Barat dan hasil ilmu pengetahuan Barat, Ali tidak lagi mementingkan  pemerintah dan pembangunan, maka perkembangan  di bidang  sastra berkurang. Dua abad kemudian barulah muncul lagi karya sastra Arab yang baru, dan para penyair menyesuaikan diri dengan  keadaan zaman modern, mereka mulai  melepaskan diri  dari ciri  khas klasik, namun  keterikatannya masih ada. Keistimewaan  syair modren ini lebih mementingkan isi dari pada sampiran, bahasanya mudah dan sesuai dengan keadaan.
Pada masa ini munculah Penulisan prosa berupa cerita-cerita pendek modern dalam bahasa Arab, demikian juga novel dan drama, yang baru dimulai pada akhir abad lalu. Belakangan ini bentuk puisi juga mengalami perubahan yang cukup besar. Puisi-puisi Arab modern sudah banyak yang tidak terikat lagi pada gaya lama yang dikenal dengan ‘Ilm al-’Arūd. Meskipun sebagian penyair dewasa ini senang juga menciptakan puisi bebas, tetapi masih banyak juga yang bertahan dengan gaya lama kendati tidak lagi terikat pada persyaratan tertentu, seperti penyair Mahmud Ali Taha (w.1949).  Puisi-puisinya sangat halus, romantis, tetapi sangat religius. Beberapa pengamat menganggapnya banyak terpengaruh oleh romantisme Perancis abad ke-19, terutama Lamartine. Mungkin sudah terdapat jarak antara penyair ini dan penyair-penyair modern semi-klasik sebelumnya, seperti Ahmad Syauqi atau Hafidz Ibrahim (1872-1932) yang dipandang sebagai penyair-penyair besar.
Dalam sastra Arab modern, Mesir dapat dikatakan merupakan pembuka jalan meskipun dari para sastrawan itu banyak yang berasal dari Libanon dan Suriah. Mereka pindah ke Mesir untuk menyalurkan bakatnya di negeri ini. Terlebih lagi karena di Mesir sudah ada universitas yang terkenal yaitu Unversitas al-Azhar Cairo yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah. Di kawasan arab termasuk Arab Saudi, dikenal istilah dengan sebutanas-Sā’ir al-Mahjar atau The Emigran Poet, ialah penyair-penyair yang berimigrasi umumnya ke Amerika Selatan. Perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional, kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman, serba singkat, dan serba cepat. Ciri khas perkembangan bahasa dalam sastra Arab Modern ialah digunakannya bahasa percakapan (vernacularism) dalam dialog, sekalipun dalam pemerian tetap dengan bahasa baku. Kecenderungan seperti ini ada pembelanya, tetapi juga banyak penentangnya. Bahkan pernah ada kecenderungan sebagian kalangan yang ingin mengubah huruf Arab sedemikian rupa supaya dapat juga dibaca dalam huruf Latin. Di Libanon malah ada sekelompok sastrawan yang mencoba menggantikan huruf Arab dengan huruf Latin. Bahkan sudah ada novel yang terbit dalam bahasa Arab dengan menggunakan huruf Latin.




KESIMPULAN
Sastra arab adalah sebuah karya seni yang lahir dikawasan asia barat / timur tengah. Sastra arab identik dengan bahasa arab, karena bahasa arab merupakan sebuah kunci untuk menguak seluruh isi/ rahasia yang terkandung dalam teks/sastra arab. Dalam sejarahnya, sastra arab memiliki perjalanan yang panjang sehingga bisa seperti yang saat ini, dalam sejarahnya itu ia mengalami perubahan yang cukup signifikan terutama pada masa pemerintahan abasiyah dan pada masa modern, perubahan tersebut berupa arabisasi (serapan kata dari bahasa asing ke bahasa arab) yang pada awalnya terjadi pada masa Abbasiyah kemudian berlanjut pada masa modern setelah sempat terhenti pada masa abad pertengahan. Perubahan itu terjadi karna pengaruh yang diberikan oleh agama islam pada saat nabi Muhammad diutus sebagai rosul yang mebawa syari’at islam di tanah arab, kemudian faktor lainnya adalah bercampurnya masyarakat arab dengan kaum pendatang (asing) sehingga menyebabkan pertukaran fikiran yang mengakibatkan campuran kebudayaan. Kemudian faktor ketiga adala adanya penerjemahan buku-buku bahasa asing yang mengakibatkan proses arabisasi separti yang sudah disebutkan sebelumnya. Perubahan tersebut terus berlangsung hingga zaman sekarang dan akan terus berlanjut sampai akhir zaman.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Djoko Pradopo Rahmat, 1994. Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta. Gajah Mada University Prees.
  2. Al-Muhdar, Ali Yunus & H. Bey Arifin. Sejarah Kesusasteraan Arab. Surabaya. PT. Bumi Ilmu.
  3. Al-Iskandari, Ahmad. Al-Wasit. Mesir : Darul Al-Ma’arif.
  4. Hamid, Drs. Mas’an. “Ilmu Arudl dan Qawafi”. Surabaya : Al-Ikhlas.
  5. http://www.pakdenono.com/
  6. Wargadinata, H. Wildana. “Sastra arab dan lintas budaya” . semarang : UIN Malang press.
Biodata Penulis
Nama                           : Adi Matla’ul Hadi
Alamat asal                 : Tasikmalaya
Alamat sekarang         : Papringan Yogyakarta
Jurusan                        : Bahasa dan Sastra Arab
Semester                      : Empat
CP                               : 085223996459
Web                             : premansurga.blogspot.com -  e-mail : sirojulhuda@yahoo.co.id
















SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama                                         : Adi Matla’ul Hadi
NIM                                           : 08110023
Semester                                     : Empat
Jurusan                                       : Bahasa dan Sasra Arab
menyatakan bahwa tulisan ini dengan judul SASTRA ARAB DARI KLASIK HINGGA MODERN dibuat sebenar-banarnya oleh penulis, tanpa menjiplak dari siapapun. Apabila terbukti merupakan hasil duplikasi atau plagiasi (jiplakan) dari hasil tulisan orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi sebagaimana katentuan yang berlaku.
Demikian Surat Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Yogyakarta, 1 juni 2010
Yang Menyatakan,
Adi Mathla’ul Hadi
Sumber Artikel KLIK DI SINI

[1] Djoko Pradopo Rahmat, 1994. “Prinsip Kritik Sastra”. Yogyakarta. Gajah Mada University Prees.
[2] Al-Muhdar, Ali Yunus & H. Bey Arifin. Sejarah Kesusasteraan Arab. Surabaya. PT. Bumi Ilmu.
[3] Al-Iskandari, Ahmad. Al-Wasit. Mesir : Darul Al-Ma’arif.
[4] Al-Iskandari, Ahmad. Al-Wasit. Mesir : Darul Al-Ma’arif.
[5] Hamid, Drs. Mas’an. “Ilmu Arudl dan Qawafi”. Surabaya : Al-Ikhlas
[7] Al-Iskandari, ahmad. Al-Wasit. Mesir : darul al-ma’arif.
[8] Penyair arab pada masa bani umayah
[9] Wargadinata, H. Wildana. “Sastra arab dan lintas budaya” . semarang : UIN Malang press.
[10] Pengarang kitab  Sulam al-Munauraq (ilmu mantiq)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar